Things I want to Do
June 23rd, 2008 by p-oktavia
22 June 2008
Dibilang bakal berumur
pendek membuat saya kadang bertindak tanpa banyak pikir, terjun bebas… kadang
terlalu bebas, dalam rangka berusaha untuk tidak melewatkan apa yang ditawarkan
hidup kepada saya. Tapi saya sering lupa dengan keterbatasan saya, bahwa dalam
umur saya saat ini saya bahkan belum merasa dewasa…. Saya lupa kalau semua hal
punya konsekuensi…. Saya takut sakit kalau jatuh, padahal rasa sakit itu
sesuatu yang wajar saja dalam hidup…. Saya selalu mengira, bahwa dalam
keterbatasan umur saya, saya bisa mendapat “kompensasi”: hidup saya akan mulus
dan lancar, selalu bahagia, dicintai dan mencintai, sukses, kaya raya…hehehe…naif
dan kekanak-kanakan…. Saya lupa, tidak ada seorang pun, siapa pun dia, yang
akan luput dari hal-hal yang tidak bisa diubah: ketidakabadian dan rencana
Tuhan. Bahkan orang-orang suci pun mengalami semua cobaan hidup sebagai bagian
dari rencanaNya…. So who am I asking for exceptions, asking to receive only
beautiful things for my life? And I learn about that very late…
Teman saya, Adhek, pernah
bilang bahwa hidup saya sebelumnya terlalu ‘sempurna’ sehingga mungkin orang
akan memandangnya sebagai ‘tidak adil’ dan bahwa ini saatnya bagi saya untuk
merasakan ‘ketidakadilan’ seperti yang dialami orang lain supaya hidup saya
lengkap dan seimbang…. Well, mungkin benar katanya, saat inilah saatnya saya
mengalami ketidakadilan, seperti yang saya alami sekarang….
‘Hari ini bintang hitam,’
saya ingat begitu yang selalu dikatakan Candy dalam komik setiap kali dijahili
oleh Neil dan Eliza. Hari ini juga bintang hitam bagi saya. Mungkin takdir yang
menggerakkan tangan saya sehingga saya melihat hal yang tidak seharusnya saya
lihat…dan saya terpukul…. Rasanya setiap tetes kehangatan yang berhasil saya
himpun disedot keluar meninggalkan hanya rasa dingin…. I was lost dan rasanya
limbung…. Rasanya ingin nangis, tapi malu juga kalau itu dilakukan di depan
teman-teman baru saya…jadi saya tahan, walaupun rasanya sesak. Butuh waktu
cukup lama baru saya ingat pada kalimat dalam buku yang sedang saya baca
sekarang, bahwa sebagai orang dewasa saya punya hak untuk merasa sedih dan
menangis…. Mungkin Dia sedang menuntut terlalu banyak dari saya yang punya
terlalu sedikit…. Bahkan Carl Jung berkata “terkadang Yang Illahi menuntut
terlalu banyak dari kita…” Ya, apa yang saya alami kadang saya rasakan terlalu
berat…. Ini terlalu berat untuk ditanggung oleh saya sendirian…biarpun saya
memang harus menanggungnya sendirian….
So, here I am…bersedih
atas semua yang sudah terjadi, bersedih pada hal-hal yang tidak bisa saya ubah
sekuat apapun saya berusaha mengubahnya, bersedih pada ketidakmampuan saya
sebagai manusia sambil berusaha mengingat bahwa penderitaan adalah bagian dari
hidup, dan bahwa itu akhirnya akan berakhir dan membuat saya lebih dewasa. Gak
ada lagi yang bisa saya lakukan kecuali bertahan dan mencoba bangkit sekali
lagi…. Saya sudah jatuh berkali-kali, so jatuh sekali lagi gak akan ada
bedanya…. Hal itu sangat membuat saya terpukul, but I won’t let it destroy
myself again….
Akhirnya saya berpikir, this
is what I want to do, seperti ditulis oleh Shakespeare dalam The Tempest:
Walau
kesalahan mereka yang besar mengherankan aku,
Dengan
niat baik aku melawan kemarahanku,
Akankah
aku melakukannya: tindakan yang jarang
dilakukan
Yaitu
kebaikan dan bukan pembalasan: mereka penuh
penyesalan,
Tujuan
utamaku mulai berkembang
Untuk
tidak lagi marah
(diterjemahkan Reslian Pardede dalam ‘The 5 Things We Cannot Change’)
And this is what I want
for myself:
Bahwa
saya dapat bertumbuh dari penderitaan yang terjadi dalam hidup saya
Bahwa
saya belajar untuk menjadi lebih kuat
Bahwa
saya tidak akan putus asa dengan orang lain
Bahwa
saya tidak membiarkan orang lain menjatuhkan saya, sebagaimanapun
saya tetap mencintainya
Bahwa
saya akan berani mencintai,
walau apapun yang terjadi
Bahwa
saya akan terus mencintai
tanpa syarat
Bahwa
saya akan terus percaya
pada harapan dan kebaikan
Semoga saya bisa memahami
bahwa dalam setiap tindakan buruk yang dilakukan terhadap saya sesungguhnya
dilatari oleh penderitaan yang berat dan bahwa saya akan berbelas kasih
terhadapnya, memaafkannya, dan terus mencintainya dengan tulus…
Semoga saya menerima sisi
gelap kehidupan dan menemukan cara untuk melaluinya, dan semoga saya kemudian
dapat menjadi pendamping yang berbelas kasih kepada sesama yang juga menderita…
Semoga saya memercayai
kekuatan yang membantu saya untuk mengetahui siapa saya dan kemana saya akan
pergi…